Jelang Armina, Jamaah Siapkan Sandal Cadangan

MAKKAH -- Sejumlah calon jamaah haji sudah melakukan persiapan jelang prosesi ibadah Arafah-Muzdalifah-Mina (Armina) yang akan segera dilakukan dalam waktu kurang dari dua pekan lagi. Selain persiapan fisik dan mental, jamaah juga membawa sejumlah barang bawaan sebagai langkah antisipasi saat berada di Armina.

"Saya bawa sandal cadangan, jangan sampai enggak pakai alas kaki di sana," kata jamaah Kloter SUB-08, Karbai, ditemui di Pemondokan 910 (Hotel Manazel El Hoor2), Misfalah, Makkah, Rabu (31/8).

Karbai punya pengalaman kehilangan sandal saat melakukan ibadah di Masjidil Haram. Akhirnya dia terpaksa pulang dalam kondisi telanjang kaki yang membuat kakinya kepanasan.

Karbai yang berusia 66 tahun ini pun berencana membawa bekal makanan. Meski sudah disediakan tiga kali makan selama berada di Armina, Karbai tidak ingin mengambil risiko seperti makanan datang telat atau kejadian lainnya. "Walaupun makanan disediakan, saya tetap bawa bekal," katanya.

Alsannya, di Armina nanti tidak seperti di hotel. "Di sini, kalau enggak ada makanan, kita masih bisa cari ke tempat lain," katanya.

Karbai yang pensiunan guru ini juga melakukan persiapan fisik dengan mengurangi aktivitas yang banyak menyedot energi. Hal ini agar dia dalam kondisi fit saat waktu Armina tiba.

Sementara, Muhammad Sarpimi mengatakan ketua rombongan (Karom) memang sudah mengimbau agar jamaah tidak terlalu sering ke Masjidil Haram agar tidak terlalu menguras energi. "Karom memang mengingatkan agar menjaga kesehatan dengan tidak terlalu banyak ke Masjidil Haram. Namun, kami punya prinsip. Selama tidak menguras energi, saya pikir boleh-boleh saja pergi ke Masjidil Haram," ujarnya.

Muhammad yang merupakan jamaah Kloter PLM-08 ini mengakui pernyataan Karom benar adanya kalau jamaah tiap hari pergi ke Masjidil Haram untuk melaksanakan ibadah umrah. Tapi, kalau hanya sekadar shalat, hal tersebut sama sekali tidak menguras energi.

Dia mengatakan jika shalat ke Masjidil Haram dilakukan seperti jalan-jalan biasa. Tinggal naik bus, turun, sudah sampai Masjidil Haram. "Saya subuh di Masjidil Haram, tapi Dzuhur di hotel. Shalat Ashar, Maghrib dan Isya di Masjidil Haram lagi. Jadi, saya dapat empat waktu di Masjidil Haram," katanya.

Jamaah berusia 58 tahun ini mengakui membatasi diri untuk tidak sering melakukan umrah karena benar-benar menguras energi. Muhammad baru sekali melakukan wukuf sunnah untuk almarhum bapaknya. Setelah selesai ibadah haji di mana masih ada waktu 12 hari, dia ingin wukuf sekali lagi untuk ibunya.

Lukman Thaib, jamaah asal Lamongan, menjaga kondisi fisik dengan tidak terlalu ke ruang terbuka guna menghindari sengatan sinar matahari. Jamaah berusia 40 tahun itu baru ke Masjidil Haram saat mendekati waktu Maghrib sehingga tidak terlalu terik. "Selain itu, kami persiapkan dengan berdoa memohon semoga diberi kelancaran," katanya.

Sedangkan Erma Hayulistiani dari Kloter SUB-45 menjaga kondisi fisik dengan menjaga pola makan. "Makan cukup, minum cukup dan istirahat cukup saja," katanya singkat.